Wujud Allah Menurut Para Wali

Tidak ada komentar     
categories: 
Makrifatullah sebagai pengenalan tertinggi kawulo/hamba pada gusti telah dialami oleh para wali penyebar agama Islam di Nusantara. Mereka adalah suri tauladan pencapaian pendakian spiritual bagi kita, pencari jalan Ilahi. Apa dan bagaimana makrifat dari para wali dan bagaimana wujud Tuhan yang sebenarnya? Makrifat adalah sebuah situasi mental dan kondisi kejiwaan yang dialami oleh siapapun yang menginginkan adanya perjumpaan dengan Tuhan Semesta Alam. Salah satu momen makrifat yang paling fenomenal dalam sejarah para nabi adalah apa yang dialami Nabi Musa As saat ekstase/ fana/jatuh tersungkur di bukit Sinai saat “menatap” wajah-Nya setelah gunung yang ada di depannya hancur karena tidak sanggup ditempati pancaran cahaya-Nya. Makrifat bisa diraih dengan perjuangan dan laku yang berat.Dalam khasanah tasawuf, kita akan diajari bagaimana laku yang berat tersebut harus dijalankan untuk menyingkirkan dan menerobos hijab menuju langit. Hijab adalah tirai selubung penutup batin kita sehingga kita tidak mampu menggapai wujud-Nya. Hijab di dalam perbendaharaan kaum sufi bisa dikategorikan menjadi sepuluh besar. Hijab ini berasal dari empat unsur, yaitu unsur jiwa, dunia, hawa nafsu, dan setan: Hijab ta’thil, yaitu meniadakan asma’ dan sifat Allah. Hijab berupa kemusyrikan, yaitu manembah kepada selain Allah. Hijab bid’ah qauliyah yang tidak ada pijakannya dalam agama). Hijab bid’ah ‘amaliah atau perbuatan yang menyimpang dari kebenaran iman dan ikhsan Hijab batiniyah: takabur, ujub, riya, hasad, bangga diri, sombong dan iri dengki dan lain-lain. Hijab lahiriyah: Perbuatan Ibadah yang tidak diniatkan untuk berjumpa dengan-Nya. Hijab dosa kecil. Melakukan perbuatan dosa-dosa kecil namun banyak. Hijab mubah. Melakukan perbuatan mubah namun tidak dianggap sebagai sebuah dosa. Hijab lalai dari misi penciptaan dan iradat Allah. Hijab penempuh jalan spiritual yang bersusah-payah, tetapi namun tidak sampai tujuan. “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-bena tehijab dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka” (Al-Muthaffifin: 15-16) Setelah semua hijab terbuka dan seseorang pejalan spiritual sudah sampai ke langit ketujuh di dalam diri sejatinya, maka seseorang akan kebingungan dan berada di alam “suwung”/ ora ono opo-opo. Semua pendamping kini telah meninggalkannya termasuk diri, malaikat dan para rasul. Dia kemudian dibimbing oleh Tuhan sendiri untuk berjumpa dengan Dzat-Nya. Apa yang terjadi sesudah kita bermakrifatullah? Tidak ada kata yang mampu menjelaskan situasi dan kondisi fana tersebut. Namun, kita bisa mendapatkan penjelasan dari para wali saat mengalami fana tersebut. Bagaimana wujud Allah SWT? Sunan Kalijaga: “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.” Syekh Majagung: “Allah itu bukan disana atau disitu, tetapi ini.” Syekh Maghribi: “Allah itu meliputi segala sesuatu.” Syekh Bentong: “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.” Sunan Bonang: , “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya.” Sunan Kudus: “Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidak bersekutu dengan sesama.” Sunan Giri berpendapat, “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas, dekatnya tanpa rabaan.” Syekh Siti Jenar: “Allah itu adalah keadaanku. Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah” Sunan Gunung Jati: “Allah itu adalah yang berwujud haq”

Iimu Kaji Makrifat Asal Mula Jadinya Adam & Hawa

Tidak ada komentar     
categories: 

ILMU PENGASIHAN ORANG BUNIAN ( VERSY ILMU PENGASALAN )
Bismillhirrhmnnirhim.. laillahhaillahmuhammadarrasullallah, assallamualaikum ya sayyidi ADAMUS ALAIHISSALLAM wa assallammualaikum ya sayyidoh umi siti hawa rahmatil lil alamin….salam rindu dan hormat yang teramat sangat kepada sesepuh sesepuh kampus wong alus beserta para saudara saudaraku yang mondok dan berinteraksi di blog tercinta kita ini,sungguh suatu fenomena dari komunitas komunitas yang produktif,bukan lagi komunitas yang konsumtif seperti sebelum kita mengenal dan membaca blog ini,untuk kesekian kali nya saya hanturkan dengan segala permohonan untuk membuka kan satu lagi tehnology signtific dari ilmu orang bunian yang tentu ini halal di miliki oleh seluruh generasi indonesia,sayang rasanya hati jika tehnology moderen dan tercanggih yang di miliki nenek moyang kita indonesia ini tersimpan rapuh dalam tubuh saya saja,saya menemukan ilmu ini dari seringnya saya berkunjung menembus kampung orang bunian di desa saya,dahulu sewaktu tinggal di desa jauh di pedalaman hutan Riau,saya sangatlah hoby sekali mendatangi setiap acara pesta pernikahan orang bunian selain hanya karena di pesta perkawinan orang bunian saja saya menemukan nasi lemak pulut hitam (nasi pulut yg hanya bisa di buat oleh orang2 terdahulu saja ) jika pulang saya juga mendaptkan kado dari sang pengantin berupa benda benda keramat jadi sambil menyelam minum syrup,saya mengumpulkan benda benda keramat orang bunian sebagai collection saja mana tau di rantau nanti dapat berguna..he.he…nah setiap saya melihat orang bunian menikah ada satu hal selalu wajib mereka ucapkan saat terjadi ijab khabul (sang pengantin pria mengucapkan satu kalimat dan pengantin wanita nya menjawab kalimat tersebut ) yang anehnya jika si wanita tidak bisa menjawab/menyebut kalimat jawaban dari pria maka di saat itu juga mereka akan di ceraikan atau menikahnya gagal..lha kan saya jadi terpukau,apa pentingnya dan hebatnya kalimat tersebut sehingga bisa menentukan pasangan pengantin menikah atau di ceraikan,kalimat itupun juga sederhana saja,tidak seperti mantra ilmu ghaib yang panjangnya 5 kilo meter sehingga sulit di ingat,lalu sya beranikan bertanya kepda sepupu saya”juga orang bunian namanya NUAR ” fenomena kalimat tersebut,respon yang pertama dari wajah sepupu saya ini adalah wajahnya langsung pucat seakan akan saya melecehkan sebuah kalimat yang sangat keramat atau suci,lalu ia bawa saya pada seorang tua bunian yg lebih paham dan berkuasa menjelaskan itu,setelah di jelaskan panjang lebar datuk bunian itu berkata ” bahwa kalimat yang di baca oleh pasangan pengantin orang bunian tadi adalah’KALIMAT PERTAMA/AWAL YANG DI UCAPKAN OLEH NABI ADAM KEPADA MOYANG KITA SITI HAWA SAAT SITI HAWA BARU MENJADI WANITA”saya pun ikut terperanjat takut campur bahagia,di satu sisi sya menemukan Raja nya ilmu pelet di satu sisi lagi saya takut karena tadi telah sedikit meremehkan kata asal saya menjadi” he.he.he….selanjutnya apa isi dari penjelasan sang datuk orang bunian kepada saya saat itu akan sya beberkan di bawah ini beserta ilmu pengasihan semula jadi ADAM HAWA tersebut.( ingat yang saya maksud ilmu semula jadi bukanlah ilmu yang bisa di buat apa saja dan meminta kepada selain ALLAH,tetapi yang saya maksud ILMU SEMULA JADI menurut pitatah dari guru guru saya adalah ilmu yang mengkaji ASAL MULA SESUATU MENJADI/MENGKAJI PENGASALAN dari mana sesuatu itu berasal dalam bahasa kebathinan melayu sumatra”sesiapa yang mengetahui asal mula jadi sesuatu maka ia tidak akan binasa oleh sesuatu itu” nah agar jelas sejelas jelasnya maka silahkan di kaji,di dalami,di pahami,di niati baik kaji ilmu nya di bawah ini :
beserta ini akan saya ijazahkan ilmu kaji makrifat asal mula jadinya ADAM dan HAWA nenek moyang semua manusia,ADAM dan HAWA ini di akui oleh seluruh agama samawi bahwa kedua orang ini nenek moyang pertama manusia,sebelum kalimat pelet nya saya tuliskan maka akan saya jelaskan dahulu asal mula jadinya segala cinta kasih di muka bumi ini :
buka kaji makrifat awal semua ilmu pengasihan di muka bumi:
setelah nabi adam di ciptakan maka ia meminta pasangannya kepada tuhan,lalu tuhan menciptakan pasangan nabi adam (siti hawa) dari tulang rusuk sebelah kanan nabi adam maka menjadilah satu makhluk yang membuat nabi adam berkeringat setiap memandangnya….yang di rasakan nabi adam adalah ia mngenal makhluk yg satu ini tetapi semakin ia memandangnya semakin penasaran,karena ia mengenal bentuk nya yg tentu dari tubuhnya sendiri tetapi penasaran karena ada sesuatu yg lain sehingga membuat nabi adam berkeringat saking penasarannya,lalu nabi adam berdoa 1000 tahun kepada tuhan untuk boleh menjamah siti hawa (maksudnya menghilangkan rasa penasarannya) namun tuhan belum membolehkan (ini utk menguji seberapa kuat makhluk yg baru tuhan ciptakan ini )dalam agama islam pada surat al baqoroh dan pada agama kristen pada surat yeheskehel terdapat firman tuhan ” tiada satupun makhluk yang ku ciptakan tampa ku uji batas kemampuannya”lalu nabi adam terus berusaha mencari cara agar siti hawa ini mau ia jamah padahal siti hawa lebih taat pada perintah tuhan,ada 777 cara adam lakukan namun tiada jua dapat merobohkan kunci nafsu dan kunci iman siti hawa,akhirnya teringatlah adam kepada kata yg pertama sekali ia ucapkan saat siti hawa menjadi dari tulang rusuknya,seingat adam hanya pada satu kata awal itu,siti hawa menjawab sapaannya selain itu telah di coba 777 cara tiada satupun dari cara itu yg di jawab oleh siti hawa….akhirnya adam ucapkan dengan lembut kata awal tadi maka di jawablah langsung oleh siti hawa sehingga setelah menjawab itu robohlah seluruh keimanan siti hawa sehingga terjadilah pelanggaran larangan yg telah tuhan ucapkan kepada mereka……
aplikasi makrifat dalam arti sesungghnya/hakikat sebenarnya :
apa sih hebatnya kata awal yg di ucapkan nabi adam itu….?….pertama,sesungguhnya semua ilmu yang berkarakter membangkitakn ghairah/cinta kasih berasal dari kjadian awal ini,karena hal hal gairah dan menyatunya dua makhluk yg berlainan jenis dan karakter memang di mulai dari kejadian adam dan siti hawa ini,selain itu tidak ada satupun bukti lain dalam semua kitab agama samawi di muka bumi ini yg menjelaskan kejadian selain nabi adam dan siti hawa….
kedua : hakikat sebenarnya secara naluri…semua pria dan wanita di muka bumi ini selalu merindukan ucapan yang pertama sekali ia berasal dalam kata lain kita selalu membicarakan dan merindukan asal mula kita datang/berada sebagai contoh..kaum wanita pasti akan bertekuk lutut jika kita menyebut ucapan yg pertama sekali di ucapkan oleh pacar pertamanya karena secara spontan kata yg membuat ia jatuh cinta pertama pada seorang laki2 itu menyimpan sebuah energy yg sangat indah dan memabukkannya,oleh karena itu jika kita mengetahui apa kalimat yg pertama di ucapkan oleh pacar cinta pertamanya dulu maka pasti kata itu jiika kita ucapkan akan membuat ia mabuk kepayang…itu baru kata biasa yg di ucapkan pertama sekali ia jatuh cinta.nah kaum pria pun juga begitu,coba lah lihat apa yg kita bicarakan jika kita berkumpul sesama pria,pasti yg kita bicarakan adalah wanita dan ujung ujung ceritanya yang sangat membuat kita penasaran dan menggairahkan pastilah membicarakan dan membayangkan “maaf” adalah alat kelamin wanita…tau kah kenapa kita selalu fokus membicarakan itu…? karena hakikatnya manusia memang selalu merindukan dan membicarakan dari mana ia berasal,coba kita lahir dari telinga wanita maka pastilah yg selalu kita bicarakan dan rindukan adalah telinga wanita tersebut….( maaf sperti bercanda tetapi ini bagian dari kaji makrifat ilmu pelet)…nah itu bukti nyata,otentik dan sangat jelas dari kaji yg saya buka kan di atas.
ketiga : ini makrifat sirr (rahasia ghaibnya)nya: sesungguhnya saat fenomena itu terjadi ( takluknya siti hawa sehingga bersdia di jamah oleh nabi adam) nabi adam dan siti hawa masih berada di alam TUHAN,alam yg sangat dekat dengan tuhan yang bernama ALAM ZAITUL BAIDA dimana nabi adam masih dapat melihat tuhannya apalgi terkhusus siti hawa ia baru saja melihat jelas zat nya TUHAN karena ia baru saja di ciptakan oleh qodrat dan iradat tuhan (qodrat dan iradat itu adalah semacam cermin tuhan) coba kita bayangkan di saat masih di alam tuhan saja/masih dekat aroma TUHAN dengan kehidupan nabi adam dan siti hawa ini,dengan kalimat yang nabi adam ucapkan MEMBUAT SITI HAWA MEMUNCAK HAWA NAFSUNYA MENGALAHKAN RASA TAKUT KEPADA TUHAN YG TELAH MELARANG IA UTK MEMAKAN BUAH TERLARANG maksudnya berhbungan badan,begitu juga nabi adam setelah mendengar ucapan jawaban dari siti hawa ia lebih memucak lagi ghairah hawa nafsu dan cinta kasihnya sehingga mengalahkan rasa takut dan cinta kasihnya untuk tunduk pada peraturan tuhannya…..sungguh dashyat energy ghairah dari kedua kata2 itu berarti…? apalagi adam adam dan siti hawa siti hawa yang sekarang berada di muka bumi yg sangat jauh hijabnya berlapis lapis dari cahaya prarupa nya TUHAN….pasti lebih tidak akan sanggup menahan bangkitnya ghairah dari kata semula jadi adam hawa ini jika di tembakan kepada mereka……maka oleh itu lah kata awal nabi adam ini sengaja di sembunyikan oleh kaum makrifatullah dan kaum pertapa kebathinan,jika kalimat ini di ketahui oleh manusia penjahat kelamin maka sungguh akan bergelimpanganlah kejahatan kejahatn kelamin dan lawan jenis di muka bumi ini,namun jika kata semula jadi adam ini berada di tangan orang orang yg mentalnya sudah tertata dan sudah mengetahui hakikatnya apa sesungguhnya berkasih sayang itu maka kata ini akan menjadi sebuah ladang amal ibadah yg sangat subur…kenapa….coba jika kata ini ia gunakan utk merukunkan secara pasti keluarga yg akan bercerai menjadi rukun dan bersatu kembali dalam membangun hidup yg sakinah,rumah tangga yg sakinah akan menghasilkan anak anak yg sakinah (berbobot sakinah intelegensi)sakinah pasti menghasilkan bibit yg pintar (bukan pintar mintarin orang..he.he) anak2 yg sakinah jika menjadi pemimpin maka pasti akan menjadi pemimpin sakinah,bahkan dengan keluarga yg sakinah kita akan menghasilkan bung karno bung karno lain/menghasilkan presiden presiden yg sakinah seperti bung karno,seorang goodfather asia tenggara yg berkarakter sakinah….sungguh ladang ibadah yg sangat luas…lebih luas dari ladang minyak caltex/cevron riau yang 1 CPP bloknya saya kuasai..he.he….dan banyak lagi ladang ladang ibadah lain jika kata ini di ketahui dan di amalkan oleh orang orang yg bertekad kebaikan……nah sekarang kalimat semula jadi nya adam dan siti hawa ini apa…? dan bagaimana membuktikan bahwa ini kalimat semula jadi nya adam dan siti hawa yg asli…? bukan kira kira saya saja seperti yg selama ini di buat buat dan di kira kira banyak orang…?
pertama kita bisa melihat bukti otentik kalimat ini pada kitab taurat yang 10 lembar (tuhan memberikan 10 perintah kepada nabi musa dalam kitab taurat) pada halaman ke 3 asal mula kejadian adam dan hawa tertulis lengkap kalimat ini.
kedua : sebelum saya mengijazahkan ini saya telah meng aplikasi kan ini dalam berbagai kasus perceraian dalam bertahun tahun saya merantau dan membantu orang,sesungguhnya kata ini bukanlah hanya mampu menyelesaikan hal hal yg berhubungan dengan pengasihan penakluk tapi juga sangat ampuh jika di gunakan untuk berbagai bisinis nyata yang berhubungan dengan kaum hawa dan kaum adam…umpama saya memiliki teman joint venture/kawan bisnis kerja sama seorang wanita,saya menyapa awal kawan wanita tadi dengan kalimat semula jadi ini dan tentu saya arahkan niat bukan untuk urusan ghirah atau sex,saya arahkan pada rasa suka yg teramat sangat sehingga kawan wanita tadi lebih mengalir,nyaman dan percaya meletakkan investasi dana nya kepada saya,begitu juga sebaliknya jika kata semula jadi ini di gunakan oleh kaum hawa untuk bekerja sama dengan kawan bisnis pria nya…..jadi kalimat semula jadi ini sngat plexibel di gunakan,baik oleh pria mupun wanita,jika ia pria ia ucapkan kalimat yg di ucapkan nabi adam dalam ilmu pelet semula jadinya dan jika ia wanita maka ia cukup menambahkan kalimat jawaban siti hawa dalam kalimat ilmu pelet semula jadinya
ketiga:jika tidak yakin bahwa ini kalimat awal yg di ucapkan nabi adam kepada siti hawa maka silahkan pelajari saja ilmu pelet jenis lain..he.he..he….nah berikut ini saya akan beberkan sekaligus ijazahkan kepada bolo wong alus sedoyo…(numpang bhsa jawa dikit,maklum istri saya orang magelang..he.he..) ilmu penakluk nabi adam ini yg saya dapatkan dari orang bunian pedalaman kelayang kabupaten inderagiri hulu Riau sumatra indonesia,di dalam ilmu ini akan tertulis kunci utama dari ilmu pengasihan penakluk ini yaitu kata yg di ucapkan semula jadi oleh nabi adam kepada siti hawa. berikut ilmu tersebut:
BISMILLAHI ZAITUL BAUTI
CAPAI ADAM TERBANG BURUNG INDAN SUARA
HINGGAP DI RANTING TAPAK NABI SULAIMAN
TERDENGARKAN NABI ADAM BERKATA”LAILLAH HAILLALLAHU,ASSALLAMMUALAIKUM YA BABU RAHIM”
AKU MEMBUKA KUNCI FATIMAH 7 LAPIS KUNCI BESI LAGI TERORAK LAGI TERBONGKAR
KONON PULAK KUNCI IMAN SI ( sebut nama yg di tuju)
TERDENGAR KAN NABI ADAM BERKATA”LAILLAH HAILLALLAHU,ASSALLAMMUALAIKUM YA BABU RAHIM”
AKU MEMBUKA KUNCI FATIMAH 7 LAPIS KUNCI BESI LAGI TERORAK LAGI TERBONGKAR
KONON PULAK KUNCI NAFSU SI ( sebut nama yg di tuju )
AKU ADAM ENGKAU HAWA,LANGIT SELEBAR DULANG
TEMPAT KITA BERDUA…..BERDUA DI ALAM ZAITUL BAIDA.
BARAKATI BISMILLAH.
NB: jika wanita yang mengamalkan ilmu ini maka tambahkan kata semula jadi yg di jawab oleh siti hawa kepada ADAM (muhammaddarasullallah waalaikummussalam ya baba rahman).
tehnik aplikasinya pada target : untuk jarak dekat
– bacalah kalimat ini 1 x dlam hati ( lidah tidak berucap mulut tidak berkata) lalu hembuskan ke telapak tangan,usahakan telapak tangan kita berkeringat,lalu tegurlah si wanita dan usahakan bersalaman lalu harus bisa ngobrol paling sedikit 5 menit dengan si wanita,lalu setelah pulang kerumah tangan bekas bersalaman tadi kita usapkan ke pusat/puser perut kita smbil mengusapkan bacalah kalimat ini “hai nur bibah nur fatimah kembalilah kau ke tempat semula jadi mu,AKU”.
usahakan setelah bertemu tadi jangan bertemu dengan si wanita yg sudah kita tuju tadi selama 3 hari,kemungkinan terbesar selama 3 hari itu ia akan mencari cari kita,semakin lama tidak dapat menemukn kita maka semakin berkobar rasa rindunya sehingga saat bertemu nanti kemungkinan besar akan mengajak kita untuk menikah…
-satu lagi perlu di ingat,setelah kita menghembuskan napas ke telapak tangan maka usahakan tangan tersebut jangan bersalaman keculi bersalaman dengan wanita yg akan kita taklukkan,stelah bersalaman dengan wanita yg kita tuju baru boleh tangan kita tersebut tersentuh orang lain…jika tngan kita tersentuh lebih dahulu oleh orang yg bukan kita tuju maka pudarlah seluruh kekuatan penakluk tersebut selamanya untuk wanita yg akan kita taklukkan,namun untuk wanita lain masih bisa dengan kita buat ulang lagi.
tehnik jarak jauh :
-berbaringlah seperti akan tidur,lalu bayangkanlah wajah si wanita…bayangkan dengan santai tidak perlu di paksa paksa pembayangannya,sambil membayangkan tersebut bacalah kalimat ilmu penakluk tersebut berulang ulang kali sampai terasa yakin dan jelas bayangan si wanita hentikan bacaannya lalu genggamlah bayangan tadi dengan tangan kanan dan letakkan genggaman tangan tersebut pada pusat kita sambil membaca kalimat utk pusat yg sya tulis di atas tadi,lakukan selama 3 malam lalu silahkan lihat apa yg terjadi….
UNTUK MEMPERTAJAM DAN MENYATUKANNYA KE BADAN ILMU INI:
-pertama,pintu tempat keluar nya siti hawa ditubuh kita di buka terlebih dahulu,oleh gurunya atau boleh siapa saja asal yang membuka kan pintu siti hawa tadi sudah berkeluarga/harus sudah pernah menikah halal.begitu juga jika si pengamal wanita,menggunakan daun kritang/daun putri malu (jika di sentuh daun tersebut akan mengkuncup/mengecut).namun banyak juga manusia yang telah terbuka pintu tersebut secara otomatis dari lahir atau karena sudah pernah menikah maka silahkan langsung di pakai ilmu terseb
nah kata adam hawa ini bisa kita masukkan dan gabungkn dalam ilmu pengasihan apa saja bahkan ia akan sangat mendukung/berguna jika kita gunakan sehari hari saat ber interaksi dan bersosial serta berbisnis dengan wanita,karena jika kata ini terucap dalam hati maka ruh si wanita akan tersentuh bahagia (tersentuh secara bathin makrifat ).saya selalu menggunakan kata adam hawa ini jika bersalaman dengan wanita mana saja dan alhamdulillah hingga hari ini saya memiliki kawan bisnis wanita yg sangat tepat dan akrab dan berjaya dalam banyak bisnis…..SEMOGA MENEMUKAN JERNIHNYA MATA AIR ILMU,BUKAN KERUH NYA YANG DI RAIH,BUKA KULIT TAMPAK ISI…amin.

Dzikir Makrifat

1 komentar     
categories: 
BAB I
HAKIKAT PENGENALAN DIRI
Assalamu Alaikum Brothers…………………….
Tema pada saat ini yg saya mau uraikan adalah SANGAT2 RAHASIA, Beruntunglah, Berbahagialah & Bersyukurlah kpd ALLAH SWT, Karena penjelasannya TIDAK ADA DI BUKU2 LAINNYA, Dan ilmu2 AgamaNYA ALLAH SWT  tidak gampang ditemukan & tidak sebanding dengan harta & Material yang ada di muka bumi ini, maka tunduk sujud syukurlah KepadaNYA semoga penjelasan ini menjadi HIDAYAH bagi anda,……..AMIN
ini adalah kekuatan cahaya Dzikir yg ada pada diri manusia dgn 4 tingkatan ingatan fokus pada ALLAH SWT Sang Maha Bercahaya.
Makin dalam & fana (hampa) suatu fokus dzikir maka makin terlenalah Sang Hamba oleh fenomena kegaiban alam Nur Ilahiah. karena jika ingin mengenali ALLAH pahamilah tentang Gaib sesungguhnya ALLAH pun sifatNYA GAIB & Perkenalanmu KepadaNYA Takkkan habis sampai seumur hidupmu di dunia ini.
Seorang Hamba terkadang tidak menyadari bahwa ia sebenarnya masih di dunia sehingga menerawang melintasi alam kegaiban nur Ilahiah yang tak ada batas akhirnya membutuhkan power energi cahaya dzikir yg kuat.
Jika sang Hamba berpikir bijak ia pasti kembali ke dunia ibarat orang yang lagi menyelam melihat cakrawala keindahan bawah laut tidak terlalu lama lalu ia kembali ke permukaaan dasar laut untuk persiapan oksigennya kembali.
Begitulah tehnik berzikir yang bijaksana saudara……………………………
Ketahuilah Brothers  secara realita banyak saudara2 kita yang ERROR oleh fenomena alam kegaiban ALLAH SWT ketika mengosongkan pikiran &  masuk dalam alam kefanaan (hampa) melalui dzikir 4 tingkatan Syariat-Tarekat-Hakikat-Ma’rifat.
Padahal kalau ditelaah secara hakikat Alam fenomena visual kegaiban ALLAH SWT Takkan Habis oleh masa, batas, ruang & waktu ibaratnya kalo menghitung ilmu2-NYA ALLAH SWT takkan habis biarpun laut dijadikan tinta untuk menulis ayat2 ilmu ALLAH SWT Yang Maha Luas PengetahuanNYA Di Alam Jagat Raya (Q.s Al Kahfi : 109). Pohon dijadikan pena utk menulis ilmu2 Allah takkan pernah habis ilmu-Nya (Lukman:27)
Berikut ini adalah tuntunan2 dzikir:

  • Dzikir Syariat : “La Ilaha Illallah” diucapkan berulang2 dgn lisan sampai masuk kedalam hati sehingga lisan/mulut tak berucap lagi, rahasia dzikir ini terdiri dari 12 huruf yg sama maknanya dengan Waktu 12 jam, dzikir ini selalu dikumandangkan oleh para malaikat bumi (Malaikatul Ahyar) ketika ALLAH SWT menciptakan setiap makhlukNYA di muka bumi.
  • Dzikir Tarekat : “ALLAH”ALLAH”ALLAH” diucapkan berulang2 di dalam hati saja dengan pengosongan pikiran fana (hampa) lalu fokus pada nama tadi sehingga nama ALLAH tadi membuat & menciptakan alam bayangan hidup  didepan mata anda sendiri, jangan kaget & takut oleh fenomena tersebut karena para jin syetan selalu mengintai anda tetapi berlindunglah Kepada ALLAH SWT yang Maha Menjaga Orang Beriman dgn ayat & doa : audzu billahi minas syathanir rajim…………… La ilaha illallah anta subhanaka inni kuntu minaz zhalimin……….lalu lafazkan… ALLAHU SALAMUN HAFIZHUN WALIYYUN WA MUHAIMIN ( Allah Yang Maha sejahtera, Maha Memelihara, Maha Melindungi lagi Maha Menjaga Hambanya yg beriman).
  • Dzikir Ma’rifat : ” HU”AH”-“HU”AH”-HU”AH” atau HU-WAH” (Dia ALLAH Bersamaku”) sebenarnya bunyi dzikir ini sudah perpaduan antara hakikat & ma’rifat, dzikir tersebut dilantunkan dalam hati saja dengan gerakan nafas “HU” masuk kedalam “AH” keluar nafas, pada para sufi (wali Allah) ini adalah dzikir kenikmatan, kecintaan ( Mahabbatullah) yang sangat luas faedah hidayahnya & karomahnya sehinngga dapat menyingkap tabir rahasia2 Allah Swt pada gerakan kehidupan ini.
  • Dzikir Hakikat : “HU”HU”HU (DIA ALLAH) diucapkan dalam hati saja dengan keadaan fana (hampa) melalui perantaraan tarikan Nafas ke dalam sampai ke perut, usahakan perut tetap keras biarpun nafas telah keluar, dalam bahasa ilmu tenaga dalam ini adalah metode pemusatan power lahiriah dari perut, dalam istilah cina yin & yang ini adalah penyembuhan/pengobatan pada diri secara bathiniah dan kesemuanya itu benar adanya karena pusat perut adalah sumber daya energi kekuatan manusia secara lahiriah & bathiniah serta secara hakikat dzikir”HU” sebenarnaya tempatnya pada pusat perut dengan perantaraan cahaya nafas yg sangat berharga pada manusia.
  • Dzikir rahasia  ma’rifat : ” Hu”wallahu Ahad (Allah Maha Tunggal)

  1. Syariat : mentaati segala perintahnya dan menjauhi segala larangan-NYA
  2. Tarekat : Jalan spritual (kebatinan) menuju kepada-NYA
  3. Hakikat : Mengetahui arti makna sesuatu pada kehidupan TAPI hamba itu diam pada orang awam KARENA itulah ikatan janjinya kepada ALLAH SWT.
  4. Ma’rifat : Mengetahui pengenalan dirinya kepada ALLAH SWT.   seperti yang  dikatakan para Ahli Sufi Waliyullah “Man Arafa Nafsahu Fakade Arafa Rabbahu” Brgsiapa mengenal dirinya, niscaya pasti mengenali Tuhan-Nya,  jadi maknanya kenalilah dirimu sendiri sebelum mengenali ALLAH setelah engkau Mengenali-Nya maka bersatulah wujud hakikimu BERSAMANYA… “Subhanallah Wabihamdihi”.
  5. Musyahadah : Penyaksian fenomena kegaiban NUR ALLAH SWT Di langit & di bumi, ia menyaksikan-NYA bersama para wali2 ALLAH & nabi2 ALLAH & Khususnya Baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW
  6. Mukasyaf : Terbukanya Hijab Tabir rahasia2 Allah seluruhnya di langit & di bumi, para mukasyaf saat ini hanya terdiri dari 111 orang saja di  seluruh  dunia & setiap ada wafat ada yang menggantikan Wali tersebut, jadi  berbahagialah hamba yang telah menemukannya & menemuinya. karena mereka biasanya gak terkenal dan gak diketahui, gak sama dgn ustad2 yg “kondang” terkenal.
  7. Mahabbah : Kecintaan kepada ALLAH SWT dengan penglihatan pada setiap gerakan nafas & hidupnya ada  kasih sayang TuhanNYA Yang Maha Pemberi Nan Maha pemurah, tingkatan ini hanya ALLAH SWT saja yang tahu tentang kedudukan hambanya, karena Maqom Kecintaan sendiri itu ada pada ke ikhlasan, kesabaran, istiqomah, Tawakkal, Keyakinan, Ketakwaan, tapi ketahuilah saudara Wali-NYA saat ini yang mencapai tingkatan MAHABBAH cuma berjumlah 11(sebelas) orang saja Di dunia ini & setiap ada yg kembali kehadirat-NYA akan ada yg menggantikannya (sama para Mukasyaf), maka sangat Berbahagialah di dunia & Akherat orang2 yang telah menjumpainya.

Pada penjelasan diatas tentang dzikir sebenarnya kalau bicara tentang tingkatan pemahaman Agama dengan ilmun2NYA ALLAH SWT terdiri 7 fase tingkatan  :
BAB II.
Ini adalah sambungan dari BAB I. yg baru saya jelaskan lagi tentang arti makna Dzikir Syariat-Tarekat-Hakikat-Makrifat.
ALHAMDULILLAH dengan adanya tulisan2 saya ini sangat banyak sekali peminat nya yg mau berkunjung & berkomentar di dalam blog ini. Itu TANDA bahwa masih banyak dr saudara2ku yg MENCINTAI tentang hakikat pemahaman ISLAM.
Dzikir diatas hanya untuk sebagai pengantar “Keyakinan” bagi org2 yg berjalan di jalan Tasawuf & Yg sudah mengenali hakikat dirinya dan Allah Subhanahu Wa Ta’Ala.
Karena Di zaman sekarang ini banyak sekali perbedaan2 antar umat Islam dgn pemahaman2 ISLAM yg radikal, Bid’ah, menambah2 Ayat Al-quran & Al-hadist, dan yg saling meng-klaim bahwa “Alirannya lah yg terbaik”  dimata Allah, padahal Firman Allah: “Inna Dina Indallahil Islam” Agama yg diridhoi-diterima Allah adalah agama ISLAM.
Apakah ISLAM itu ?  maksudnya (Ingin Selamat Laksanakan Ajaran Muhammad) yg gak diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW jangan di ikuti. Dan semua Ajaran2 Baginda Nabi Muhammad SAW sudah tertera di dalam Al-Quran & Al-Hadist sebagai petunjuk & pedoman kehidupan di dunia sampai di akherat kelak.
ISLAM adalah agama perdamaian, saling memberikan rasa cinta & kasih kepada sesama muslim yg beriman & seluruh manusia, Agama FITRAH, dan dengan tidak ada pemaksaan masuk ke dalam agama ISLAM, kecuali org tersebut sdh ikhlas & Ridha bahwa Allah SWT sebagai Tuhan nya & Baginda Rasulullah sebagai Nabinya.
Dalam Uraian Pemahaman dzikir diatas saya telah bercerita panjangggg.. tentang Rahasia2 sesuatu, tapi YAKINLAH itu semua KHUSUS bagi saudara2ku yg berbudi baik nan pekerti luhur  & beriman, bertaqwa yg mau memegang TEGUH SYAHADAT & ISLAM (Ingin Selamat Lakukan Ajaran Muhammad)
Memang Pemahaman2 Dzikir diatas KHUSUS bagi org2 BENAR2 YAKIN & SUNGGUH2 ingin “MENGENAL DIRINYA” & “MENGENAL ALLAH SWT” Al Khaliq- Pencipta Alam semesta jagad raya. & pencipta lahir dan batin kita, jasmani-ruhani kita, Nampak dan Tiada Nampak, NYATA & GAIB, Logika dan Non Logika.
Karena org beriman selalu memandang TAJALLI kekuasaan Allah Swt secara NYATA pada AINUL YAKIN (Pandangan keyakinan) yg bergerak pd alam semesta & kekuasaan HAQQUL YAKIN (Pandangan mata hati) yg bernuansa secara GAIB yg bergerak dlm batin dan pd unsur Bayang2 kekuasaan ALLAH.
Diatasnya HAQQUL YAKIN  masih ada lagi KAMALUL YAKIN (kesempurnaan keyakinan) dan keyakinan ini bisa dirasakan setelah kita telah BERJUMPA dgn ALLAH di akherat nanti, Namun ada juga bagi org2 khusus Dicintai-NYA yg telah diberi hidayah KAROMAH-NYA  & yg telah dibukakan hijab-NYA pada “KAMALUL YAKIN” di dlm dunia.
Dan Dialah orang2 yg mau ber-makrifat kepada ALLAH SWT  & Orang2 tersebut selalu memandang pada kefanaan (hampa) bahwa dimuka bumi ini semua Fana “tidak ada” yg ADA cuma “WAJAH ALLAH & GERAK ALLAH SEMATA (LAA ILAHA ILLALLAH) & ini di abadikan dlm surah Ar-Rahman:26-27.
“Kullu Man Alaiha Fanin, Wa Yabqa Wajhu Rabbika Dzal Jalali Wal Ikram”.
Semua pasti binasa (TIADA), yg kekal hanya WAJAH TUHANMU yg Maha memiliki keagungan & kemuliaan.
Karena Semua punya akhir & Masanya Masing-masing……………………..
Adapun Tentang Makrifat:

  1. AWALUDIN MA’RIFATULLAH Artinya :Awal agama adalah mengenal Allah.
  2. LAYASUL SHALAT ILLA BIN MA’RIFAT Artinya :Tidak syah shalat tanpa mengenal Allah.
  3. MAN ARAFA NAFSAHU FAKADE ARAFA RABBAHU Artinya :Barang siapa mengenal dirinya niscaya dia pasti akan mengenal Tuhannya.
  4. ALASTUBIRABBIKUM QOLU BALA SYAHIDNA Artinya :Bukankah aku ini Tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,kami menjadi saksi.(QS.AL-ARAF 172)
  5. AL INSANNU SIRRI WA ANNALLAHU SIRRUHU Artinya :Manusia itu rahasiaKU dan akupun ALLAH rahasia baginya.
  6. WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUUN Artinya :Aku ALLAH ada didalam Jiwamu mengapa kamu sendiri tidak dpt melihat (Q.s. Adz-Dzariyat:21)
  7. WANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ Artinya :Aku ALLAH lebih dekat dari urat nadi lehermu.
  8. LAA TAK BUDU RABBANA LAM YARAH Artinya :Aku tidak akan menyembah Allah bila aku tidak melihatnya lebih dahulu.
  9. INNAHU ALIMUN BIZATISH SHUDUR Artinya: Sesungguhnya AKU ALLAH maha mengetahui segala isi hati (Q.s AL MULK:13).
  10. WA HUWA MA AKUM AINAMA KUNTUM Artinya: AKU ALLAH berada dimana saja kamu berada. (Q.s AL HADID:4).
  11.  “KEMANAPUN ENGKAU HADAPKAN WAJAHMU DISITULAH WAJAH ALLAH” (Al-baqarah : 115).
BAB III.
HAKIKAT NUR MUHAMMAD
Alimul Fadhil H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari (Guru Sekumpul) pernah menyinggung dan menguraikan pembahasan tentang salah satu tema yang selalu aktual diperbincangkan dalam dunia tasawuf, yakni wacana tentang ‘Nur Muhammad’ dalam salah satu pengajian beliau di Komplek al-Raudah Sekumpul Martapura. Untuk membutiri kembali pandangan tentang Nur Muhammad dimaksud seiring dengan peringatan haul beliau yang ke-5 tahun ini (5 Rajab 1431 H ─ 17 Juni 2010 M) berikut tulisan ini dihadirkan guna pencerahan. Apakah yang dimaksud dengan Nur Muhammad tersebut?
Dalam kitab Hikayat Nur Muhammad diceritakan bahwa tubuh manusia (anak Adam) mengandungi tiga unsur, yakni jasad, hati dan roh. Di dalam roh terdapat hakikat, di dalam hakikat tersimpan rahasia, rahasia itulah yang dinamakan makrifah Allah. Di dalam makrifah pula ada zat yang tidak menyerupai sesuatu pun.
Rahasia atau makrifah Allah ini dinamakan Insan Kamil. Insan Kamil dijadikan dari Nur yang melimpah dari zat Haqq Ta’ala.
Menurut riwayat, sumber cerita tentang kejadian Nur Muhammad ini bermula dari biografi Nabi Muhammad yang ditulis oleh Ibnu Ishaq (sejarawan Islam). Dalam biografi tersebut, Ibnu Ishaq ada mencatat riwayat yang menyatakan bahwa Allah telah menciptakan Nur Muhammad dan Nur itu telah diwarisi melalui generasi nabi-nabi hingga ia sampai kepada Abdullah bin Abdul Muthalib dan turun kepada Nabi Muhammad Saw.
Kemudian terdapat sejumlah hadis yang menerangkan tentang Nur tersebut, antaranya, “sesungguhnya yang mula-mula dijadikan oleh Allah adalah cahaya-ku (Nur Muhammad)………”.
Beragam pandangan terhadap hadis ini, ada yang menyatakan maudhu’ (tertolak), dhaif (lemah), bersumber dari falsafah Yunani, tetapi ada pula yang menyatakan bahwa riwayat tersebut boleh diterima karenanya sanadnya bersambung.
Hadis tersebut cukup panjang matannya dan diringkas sebagai berikut: “Dan telah meriwayatkan oleh Abdul Razak dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah ra, beliau berkata: “Ya Rasulullah, demi bapaku, engkau dan ibuku, khabarkanlah daku berkenaan awal-awal sesuatu yang Allah telah ciptakan sebelum sesuatu! Bersabda Nabi Saw: “Ya Jabir, sesungguhnya Allah menciptakan sebelum sesuatu, Nur Nabi-mu daripada Nur-Nya’.
Maka jadilah Nur tersebut berkeliling dengan Qudrat-Nya sekira-kira yang dihendaki Allah. Padahal tiada pada waktu itu lagi sesuatu pun; tidak ada lauh mahfuzh, qalam, sorga, neraka, Malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia; tiada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.
Dari nur inilah kemudian diciptakan-Nya qalam, lauh mahfuzh dan Arsy. Allah kemudian memerintahkan qalam untuk menulis, dan qalam bertanya, “Ya Allah, apa yang harus saya tulis?” Allah berfirman: “Tulislah La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.” Atas perintah itu qalam berseru: “Oh, betapa sebuah nama yang indah dan agung Muhammad itu, bahwa dia disebut bersama Asma-Mu yang Suci, ya Allah.” Allah kemudian berkata, “Wahai qalam, jagalah kelakuanmu ! Nama ini adalah nama kekasih-Ku, dari Nur-nya Aku menciptakan arsy, qalam dan lauh mahfuzh; kamu, juga diciptakan dari Nur-nya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apa pun.”
Ketika Allah telah mengatakan kalimat tersebut, qalam itu terbelah dua karena takutnya akan Allah dan tempat dari mana kata-katanya tadi keluar menjadi tertutup, sehingga sampai dengan hari ini ujung nya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak menulis, sebagai tanda dari rahasia ilahiah yang agung.
Maka, jangan seorangpun gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi Suci, atau menjadi lalai dalam mengikuti contohnya (Nabi) yang cemerlang, atau membangkang dan meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada kita.………dan seterusnya.
Bagaimana penjelasan Guru Sekumpul tentang Nur Muhammad tersebut? Secara ringkas penjelasan beliau sebagaimana konten materi pengajian yang bertemakan tentang ‘Kesempurnaan’ (penjelasan ini bahkan beliau ulang-ulang tidak kurang dari tiga kali) boleh diringkaskan sebagai berikut:
Beliau memulai penjelasannya dengan ungkapan yang sangat dikenal dalam dunia tasawuf, di mana untuk mengenal Tuhan seseorang harus terlebih dahulu mengenal akan dirinya.
Maksudnya, untuk sampai kepada pengenalan terhadap Tuhan, menurut Guru Sekumpul haruslah terlebih dahulu dipahami dua hal. Pertama, ia harus terlebih dahulu mengenal asal mula akan kejadian dirinya sendiri, dari mana, di mana dan bagaimana ia dijadikan? Kedua, ia harus terlebih dahulu mengetahui apa sesuatu yang mula-mula dijadikan oleh Allah Swt. Kedua perkara di atas menjadi prasyarat kesempurnaan bagi para penuntut (salik) dalam mengenal (makrifah) kepada Allah.
Adapun yang mula-mula dijadikan oleh Allah adalah Nur Muhammad Saw yang kemudiannya dari Nur Muhammad inilah Allah jadikan roh dan jasad alam semesta.
Bermula dari Nur Muhammad inilah maka sekalian roh (dan roh manusia) diciptakan Allah sedangkan jasad manusia diciptakan mengikut kepada dan dari jasad Nabi Adam as. Karena itu, Nabi Muhammad Saw adalah ‘nenek moyang roh’ sedangkan Nabi Adam as adalah ‘nenek moyang jasad’.
Hakikat dari penciptaan Adam as sendiri adalah berasal dari tanah (Nur Turab), tanah berasal dari air, air berasal dari angin, angin berasal dari api, dan api itu sendiri berasal dari Nur Muhammad.
Sehingga pada prinsipnya roh manusia diciptakan berasal dari Nur Muhammad dan jasad atau tubuh manusia pun hakikatnya berasal dari Nur Muhammad. Jadilah kemudian ‘cahaya di atas cahaya’ (QS. An-Nuur 35), di mana roh yang mengandung Nur Muhammad ditiupkan kepada jasad yang juga mengandung Nur Muhammad.
Bertemu dan meleburlah kemudian roh dan jasad yang berisikan Nur Muhammad ke dalam hakikat Nur Muhammad yang sebenarnya. Tersebab bersumber pada satu wujud dan nama yang sama, maka roh dan jasad tersebut haruslah disatukan dengan mesra menuju kepada pengenalan Yang Maha Mutlak, Zat Wajibul Wujud yang memberi cahaya kepada langit dan bumi, dan yang semula menciptakan, sebagaimana mesranya hubungan antara air dan tumbuhan, di mana ada air di situ ada tumbuhan, dan dengan airlah segala makhluk dihidupkan (QS. Al-Anbiya 30).
Pengenalan terhadap hakikat Nur Muhammad inilah maqam atau stasiun yang terakhir dari pencarian akan makrifah kepada Allah, Martabat Nur Muhammad inilah martabat yang paling tinggi, dan pengenalan akan Nur Muhammad inilah yang menjadi ‘kesempurnaan ilmu atau ilmu yang sempurna’.
Menarik untuk mengkaji ulang penjelasan Guru Sekumpul di atas dengan membandingkannya kepada penjelasan tokoh-tokoh tasawuf yang juga membahas dan menyinggung tentang wacana ini.
Al-Hallaj yang mencetuskan teori hulul misalnya menyatakan bahwa Nur Muhammad mempunyai dua bentuk, yakni Nabi Muhammad yang dilahirkan dan menjadi cahaya rahmat bagi alam “tidaklah engkau diutus wahai (Muhammad Rasulullah Saw) melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam” (martabat al-a’yanu’l Kharijiyyah) dan yang berbentuk Nur (martabat a’yanu’l Thabitah).
Nur Muhammad adalah cahaya semula yang melewati dari Nabi Adam ke nabi yang lain bahkan berlanjut kepada para imam maupun wali; cahaya melindungi mereka dari perbuatan dosa (maksum); dan mengaruniai mereka dengan pengetahuan tentang rahasia-rahasia Illahi.
Allah telah menciptakan Nur Muhammad jauh sebelum diciptakan Adam as. Lalu, Allah menunjukkan kepada para malaikat dan makhluk lainnya, bahwa: “Inilah makhluk Allah yang paling mulia”. Oleh itu, harus dibedakan antara konsep Nur (Muhammad) sebagai manusia biasa (seorang Nabi) dan Nur Muhammad secara dimensi spiritual yang tidak dapat digambarkan dalam dimensi fisik dan realiti.
Menurut sufi, Muhyiddin Ibn Arabi, Nur Muhammad sebagai prinsip aktif di dalam semua pewahyuan dan inspirasi. Melalui Nur ini pengetahuan yang kudus itu diturunkan kepada semua nabi, tetapi hanya kepada Ruh Muhammad saja diberikan jawami al-qalim (firman universal).
Sedangkan menurut pencetus teori ‘insan kamil’, Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1365-1428 M) dalam karyanya, al-Insan al-Kamil fî Ma’rifat al-Awakhir wa al-Awa’il (Manusia Sempurna dalam Mengetahui Allah Sejak Awal hingga Akhirnya), menyatakan bahwa Nur Muhammad memiliki banyak nama sebanyak aspek yang dimilikinya. Ia disebut ruh dan malak apabila dikaitkan dengan ketinggiannya.
Tidak ada kekuasaan makhluk yang melebihinya, semuanya tunduk mengitarinya, karena ia kutub dari segenap malak. Ia disebut al-Haqq al Makhluq bih, (al-Haqq sebagai alat pencipta), hanya Allah yang tahu hakikatnya secara pasti. Dia disebut al-Qalam al-A’la (pena tertinggi) dan al-Aql al-Awal (akal pertama) karena wadah pengetahuan Tuhan terhadap alam maujud, dan Tuhanlah yang menuangkan sebagian pengetahuannya kepada makhluk.
Adapun disebut al-Ruh al-Ilahi (ruh ketuhanan) karena ada kaitannya dengan ruh al-Quds (ruh Tuhan), al-Amin (ruh yang jujur) adalah karena ia adalah perbendaharaan ilmu tuhan dan dapat dipercayai-Nya. Oleh itu, menurut Al-Jili, lokus tajalli al-Haq yang paling sempurna adalah Nur Muhammad. Nur Muhammad ini telah ada sejak sebelum alam ini ada, ia bersifat qadim lagi azali. Nur Muhammad itu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam berbagai bentuk para nabi, yakni Adam, Nuh, Ibrahim, Musa hingga dalam bentuk nabi penutup (khatamun nabiyyin), Muhammad Saw.
Banyak lagi penjelasan dan pembahasan tentang Nur Muhammad dimaksud. Karena, memang sejak awal kedatangan dan perkembangan Islam di ‘Bumi Nusantara’, wacana Nur Muhammad dalam berbagai konteksnya sehingga sekarang, telah menarik perhatian umat Islam. Hal ini paling tidak didukung oleh tiga faktor.
Pertama, terlihat dari banyaknya salinan yang beredar pada masa itu berkenaan dengan ‘Hikayat Nur Muhammad’ Misalnya, Hikayat Nur Muhammad naskah Betawi yang disalin pada tahun 1668 M oleh Ahmad Syamsuddin Syah. Menurut Ali Ahmad (2005) sehingga sekarang, sekurang-kurangnya terdapat tujuh versi Hikayat Nur Muhammad.
Kedua, apresiasi terhadap konsep Nur Muhammad telah mendorong lahirnya karya klasik ulama Nusantara yang secara khusus berisikan pembahasan tentang teori ini. Antaranya adalah kitab Asrar al-Insan fi Makrifah al-Ruh wa al-Rahman karya Nuruddin al-Raniri (Aceh), tiga kitab karangan Hamzah Fansuri (Barus-Aceh); Asrar al-‘Arifin, Syarab al-‘Asyiqin, dan al-Muntahi, serta Nur al-Daqa’iq oleh Syamsuddin al-Sumaterani (Pasai).
Dalam kitab Asrar al-Insan dijelaskan bahwa Allah menjadikan Nur Muhammad dari tajalli (manifestasi) sifat Jamal-Nya dan Jalal-Nya, maka jadilah Nur Muhammad itu khalifah di langit dan di bumi; Nur Muhammad adalah asal segala kejadian di langit dan di bumi. Di dalam kitab Asrar al-’Arifin dibincangkan teori wahdah al-wujud yang semula diperkenalkan oleh Abdullah Arif dalam Bahr al-Lahut dan Ibnu Arabi, kemudian dikembangkan lagi oleh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri melalui teori Martabat Tujuh dalam kitab Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi. Kemudian, dalam al-Muntahi, Hamzah menyatakan bahwa wujud itu satu yaitu wujud Allah yang mutlak. Wujud itu bertajalli dalam dua martabat; ahadiyah dan wahidiyah. Dalam kitab Nur al-Daqa’iq juga dibahas tentang wujudiyah dan martabat tujuh.
Variasi teori Nur Muhammad dalam bentuk martabat tujuh boleh didapati pembahasannya dalam beberapa kitab yang ditulis oleh ulama Melayu Nusantara, antaranya adalah dibahas dalam kitab Siyarus Salikin yang dikarang oleh Syekh Abdul Shamad al-Palimbani; kitab Manhalus Syafi (Uthman el-Muhammady, 2003) yang dikarang oleh Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani; Pengenalan terhadap Ajaran Martabat Tujuh yang dikarang atau dinukilkan kepada Syekh Abdul Muhyi Pamijahan; dan kitab al-Durr al-Nafis yang di karang oleh Syekh Muhammad Nafis al-Banjari. Oleh itu, Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dengan kitabnya Al-Durr al-Nafis ditegaskan oleh Wan Mohd Shagir Abdullah (2000) sebagai salah seorang ulama Banjar penganjur ajaran tasawuf Martabat Tujuh di Nusantara.
Dalam teori martabat tujuh dipahami bahwa dunia manusia merupakan dunia perubahan dan pergantian, tidak ada sesuatu yang tetap di dalamnya. Segalanya akan selalu berubah, memudar, dan setelah itu akan mati. Oleh karena itulah, manusia ingin berusaha mengungkap hakikat dirinya agar dapat hidup kekal seperti Yang Menciptakannya. Untuk mengungkap hakikat dirinya, manusia memerlukan seperangkat pengetahuan batin yang hanya dapat dilihat dengan mata hati yang ada dalam sanubarinya. Seperangkat pengetahuan yang dimaksud adalah ilmu ma‘rifatullah.
Ilmu ma’rifatullah merupakan suatu pengetahuan yang dapat dijadikan pedoman bagi manusia untuk mengenal dan mengetahui Allah. Ilmu ma‘rifatullah terbahagi menjadi dua macam, yaitu ilmu ‘makrifat tanzih’ (transeden) dan ‘ilmu makrifat tasybih’ (imanen). Tuhan menyatakan diri-Nya dalam Tujuh Martabat, yaitu martabat pertama disebut martabat tanzih (la ta‘ayyun atau martabat tidak nyata, tak terinderawi) dan martabat kedua sampai dengan martabat ketujuh disebut martabat tasybih (ta‘ayyun atau martabat nyata, terinderawi).
Yakni, martabat Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat yang Esa); martabat Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat yang Esa); martabat Wahidiyyah (ke-’ada’-an asma yang meliputi hakikat realitas keesaan); Keempat, martabat Alam Arwah; martabat Alam Mitsal; martabat Alam Ajsam (alam benda); dan martabat Alam Insan.
Ketujuh proses perwujudan di atas, keberadaannya terjadi bukan melalui penciptaan, tetapi melalui emanasi (pancaran). Untuk itulah, antara martabat tanzih (transenden atau la ta‘ayyun atau martabat tidak nyata) dengan martabat tasybih (imanen atau ta‘ayyun atau martabat nyata) secara lahiriah keduanya berbeda, tetapi pada hakikatnya keduanya sama.
Seorang Sâlik yang telah mengetahui kedua ilmu ma‘rifatullah, baik Ma‘rifah Tanzih (ilmu yang tak terinderawi) maupun Ma‘rifah Tasybih (ilmu yang terinderawi), ia akan sampai pada tataran tertinggi, yaitu tataran rasa bersatunya manusia dengan Tuhan atau dikenal dengan sebutan Wahdatul-Wujûd.
Uraian tersebut dapat dianalogikan dengan air laut dan ombak. Air laut dan ombak secara lahiriah merupakan dua hal yang berbeda, tetapi pada hakikatnya ombak itu berasal dari air laut sehingga keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisah.
Ketiga, di Nusantara, Hikayat Nur Muhammad merupakan teks yang  populer sekitar abad ke-14 M. Ini dibuktikan dengan tersebar luasnya kitab yang berjudul Tarjamah Maulid al-Mustafa bertahun 1351 M (Ali Ahmad, 2005), dan disinggungnya wacana ini dalam kitab Taj al-Muluk, Qishah al-Anbiya, Bustan al-Salatin, atau Hikayat Ali Hanafiah.
Membandingkan apa-apa yang digambarkan oleh Guru Sekumpul berkenaan dengan Nur Muhammad dengan uraian-uraian ulama terdahulu tampaknya tidak jauh berbeda sebagaimana pandangan umum para sufi dalam melihat Nur Muhammad sebagai yang terawal diciptakan dan kemudiannya menjadi sumber dari segala penciptaan.
Di samping itu, menurut Guru Sekumpul maqam Nur Muhammad adalah maqam paling tinggi dari pencarian dan pendakian sufi menuju makrifah kepada Allah, tiada lagi maqam atau stasiun paling tinggi sesudah ini. Kesimpulannya, berbahagialah orang-orang yang dapat menyandingkan penyatuan sumber asal mula penciptaannya dalam satu harmoni, yakni Nur Muhammad, sebab ia berada pada satu kedudukan yang tinggi dan terbukanya segala hijab yang membatasinya.
Penciptaan Ruh Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Saat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan keputusan Ilahiah untuk mewujudkan makhluq, Ia pun menciptakan Haqiqat Muhammadaniyyah (Realitas Muhammad –Nuur Muhammad) dari Cahaya-Nya. Ia Subhanahu wa Ta’ala kemudian menciptakan dari Haqiqat ini keseluruhan alam, baik alam atas maupun bawah. Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memberitahu Muhammad akan Kenabiannya, sementara saat itu Adam masih belum berbentuk apa-apa kecuali berupa ruh dan badan. Kemudian darinya (dari Muhammad) keluar tercipta sumber-sumber dari ruh, yang membuat beliau lebih luhur dibandingkan seluruh makhluq ciptaan lainnya, dan menjadikannya pula ayah dari semua makhluq yang wujud.
Dalam Sahih Muslim, Nabi (SAW) bersabda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menulis Taqdir seluruh makhluq lima puluh ribu tahun (dan tahun di sisi Allah adalah berbeda dari tahun manusia, peny.) sebelum Ia menciptakan Langit dan Bumi, dan `Arasy-Nya berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam ad-Dzikir, yang merupakan Umm al-Kitab (induk Kitab), adalah bahwa Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah Penutup para Nabi. Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahwa Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Menurut Allah, aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.”
Maysara al-Dhabbi (ra) berkata bahwa ia bertanya pada Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam, “Ya RasulAllah, kapankah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.”
Suhail bin Salih Al-Hamadani berkata, “Aku bertanya pada Abu Ja’far Muhammad ibn `Ali radiy-Allahu ‘anhu, `Bagaimanakah Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam bisa mendahului nabi-nabi lain sedangkan beliau akan diutus paling akhir?” Abu Ja’far radiy-Allahu ‘anhu menjawab bahwa ketika Allah menciptakan anak-anak Adam (manusia) dan menyuruh mereka bersaksi tentang Diri-Nya (menjawab pertanyaan-Nya, `Bukankah Aku ini Tuhanmu?’), Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam-lah yang pertama menjawab `Ya!’ Karena itu, beliau mendahului seluruh nabi-nabi, sekalipun beliau diutus paling akhir.”
Al-Syaikh Taqiyu d-Diin Al-Subki mengomentari hadits ini dengan mengatakan bahwa karena Allah Ta’ala menciptakan arwah (jamak dari ruh) sebelum tubuh fisik, perkataan Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam “Aku adalah seorang Nabi,” ini mengacu pada ruh suci beliau, mengacu pada hakikat beliau; dan akal pikiran kita tak mampu memahami hakikat-hakikat ini. Tak seorang pun memahaminya kecuali Dia yang menciptakannya, dan mereka yang telah Allah dukung dengan Nur Ilahiah.
Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakan kenabian pada ruh Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bahkan sebelum penciptaan Adam; yang Ia telah ciptakan ruh itu, dan Ia limpahkan barakah tak berhingga atas ciptaan ini, dengan menuliskan nama Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam pada `Arasy Ilahiah, dan memberitahu para Malaikat dan lainnya akan penghargaan-Nya yang tinggi bagi beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam). Dus, Haqiqat Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam telah wujud sejak saat itu, meski tubuh ragawinya baru diciptakan kemudian. Al Syi’bi meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya, “Ya RasulAllah, kapankah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau menjawab, “ketika Adam masih di antara ruh dan badannya, ketika janji dibuat atasku.” Karena itulah, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah yang pertama diciptakan di antara para Nabi, dan yang terakhir diutus.
Diriwayatkan bahwa Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah satu-satunya yang diciptakan keluar dari sulbi Adam sebelum ruh Adam ditiupkan pada badannya, karena beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah sebab dari diciptakannya manusia, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah junjungan mereka, substansi mereka, ekstraksi mereka, dan mahkota dari kalung mereka.
`Ali ibn Abi Thalib karram-Allahu wajhahu dan Ibn `Abbas radiy-Allahu ‘anhu keduanya meriwayatkan bahwa Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Allah tak pernah mengutus seorang nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan sang Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam): seandainya Muhammad (SAW) diutus di masa hidup sang Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan mendukung beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya.
Diriwayatkan bahwa ketika Allah SWT menciptakan Nur Nabi kita Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, Ia Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan padanya untuk memandang pada nur-nur dari Nabi-nabi lainnya. Cahaya beliau melingkupi cahaya mereka semua, dan Allah SWT membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata, “Wahai, Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya?” Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab, “Ini adalah cahaya dari Muhammad ibn `Abdullah; jika kalian beriman padanya akan Kujadikan kalian sebagai nabi-nabi.” Mereka menjawab, “Kami beriman padanya dan pada kenabiannya.” Allah berfirman, “Apakah Aku menjadi saksimu?” Mereka menjawab, “Ya.” Allah berfirman, “Apakah kalian setuju, dan mengambil perjanjian dengan-Ku ini sebagai mengikat dirimu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersamamu.”(QS 3:81).
Inilah makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: `Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hukmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’” (QS 3:81).
Syaikh Taqiyyud Diin al-Subki mengatakan, “Dalam ayat mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-nabi lain itu, maka risalah da’wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Karena itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam. Jadi, sabda sayyidina Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), “Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia,” bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya. Hal ini menjelaskan lebih jauh perkataan beliau, “Aku adalah seorang Nabi ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.” Berpijak dari hal ini, Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana telah pula jelas saat malam Isra’ Mi’raj, saat mana para Nabi melakukan salat berjama’ah di belakang beliau (yang bertindak selaku Imam). Keunggulan beliau ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau.
Barokallah.

Jidat Hitam Sebagai Bekas Sujud, Benarkah?

Tidak ada komentar     
categories: 

Wajah para sahabat Rasulullah SAW. itu bercahaya, sangat berkilauan, ketika bangkit dari alam kubur pun wajah mereka akan terang benderang seperti purnama rembulan. Inilah yang dinamakan min atsaris sujud (bekas sujud). Jadi bekas sujud (min atsaris sujud) bukan pada jidad yang hitam, karena hitamnya lebih tepat disebut min atsaril karpet (bekas karpet tempat dia sujud, red). Begitupun para wali Allah, mereka takut jika sampai jidad mereka hitam. Takut kalau jidad yang hitam menjadikan riya`(pamer).
Kenapa wajah para sahabat Rasulullah dapat seperti itu? Karena diawali dari wudlu yang mencapai hati. Wudlu bukan hanya melaksanakan syarat-rukunnya. Karena wudlu yang meresap sampai hati akan menimbulkan sifat tawadlu` (rendah hati), dan tubuh tidak akan mau digunakan untuk maksiat. Jangankan maksiat, semisal mata melihat keburukan pun tidak betah, pingin-nyapergi atau memejamkan mata saja. Jadi belum sampai pada min atsaris sujud (shalat), para sahabat Rasulullah sudah pada tahap min atsaril wudlu (bekas wudlu). Wudlu yang sudah merasuk ke dalam hati, sehingga tidak mau membuka aib atau melihat aib saudara sesama muslim, dan sesama anak bangsa. Kalau melihat perempuan yang terbuka auratnya, mata tertutup tak mau melihatnya, karena menganggap itu aib saudara muslimahnya. Jika hal ini diterapkan kepada kita, dan kita mau menutupi aib saudara sebangsa, atau aib pejabat, atau aib Negara, maka bangsa lain tidak akan berani memojokkan bangsa kita. Bangsa lain sanggup memojokkan kita karena kita tidak menghormati bangsa kita sendiri dengan membua aib-aib di dalamnya.
Contoh lain dari min atsaril wudlu adalah bertutur kata yang bagus serta sopan. Orang akan menjadi lebih berwibawa ketika bertutur kata yang sopan. Salamatul insan fi hifdzil-lisan, (tanda seseorang) selamat adalah karena menjaga lisannya dari tutur kata yang tidak baik. Kita, sebagai orang dewasa, segala ucapannya akan ditiru juga oleh anak-anak. Jadi orang dewasa seharusnya memberi contoh bertutur kata yang baik pada mereka. Di atas podium seyogyanya tidak membuka aib seseorang, meski tidak cocok. Allah Ta'ala saja di dalam Al-Quran memakai adab (etika) ketika sedang mengingatkan. Simak kalimat ya ayyuhal-ladzina amanu (wahai, orang-orang yang beriman), tidak menyebut namanya langsung, bukannya: "Hai, fulan bin fulan!"
Jika lisan kita terbiasa berdzikir, maka buahnya adalah tutur kata yang baik. Berdzikir itu dilakukan karena kita perlu dan butuh pada Allah, dan juga mencari pahala itu tidak hanya dalam shalat saja. Selain itu, berdzikir itu untuk melatih dan membimbing lisan dan hati agar terbiasa ingat Allah. Oleh karena tidak ada yang melebihi sakitnya sakaratul maut, maka lisan dan hati harus dilatih dengan dzikir, apalagi dalam thariqah. Apa yang menjadi kebiasaan lisan kita itu yang akan muncul secara reflek saat sakaratul maut.
Semisal, kalau lisan kita terbiasa mengucapkan alhamdulillah, kemudian kita berjalan tanpa sengaja terpeleset atau tersandung, maka biasanya reflek mengucapkan alhamdulillah. Tapi kalau yang biasa dilatih dan diucapkan kata kotor atau nama hewan, maka saat terpeleset atau tersandung batu ya kalimat nama hewan itu yang keluar dari lisannya.
Badan kita atau baju kita, tiga hari saja tidak dicuci maka baunya bikin orang lain tidak nyaman, bahkan kita sendiri pun tidak nyaman. Kalau badan kotor kita mudah membersihkannya, tinggal mandi. Tapi kalau hati kita yang kotor? Dalam sehari, berapa kali kita mencuci hati kita? Allah ta’ala berfirman, alaa bidzikrillah tathma-innul quluub. Itulah cara kita mencuci hati kita yaitu dengan berdzikir. Karena penyakit hati itu harus dibersihkan agar jauh dari sifat tercela seperti'ujub, sombong, riya’, hasud (iri hati), dan lain-lain. Adapun membersihkan hati itu dengan kalimat dzikir laa ilaaha illAllah. Kalau dalam membaca laa ilaaha illAllah ditata dengan baik dan diresapi dalam hati, maka kalimat laa ilaaha illAllah bisa membersihkan hati kita, sehingga hati penuh dengan laa ilaaha illAllah.
Kita ini dalam masuk thariqah jangan kayak anak SD yang suka pamer fadhail (keutamaan). Anak-anak kan kalau hari lebaran biasa pakai baju baru, biasanya itu saling pamer bagus-bagusan baju baru. kata si A, "Bagusan bajuku gambarnya pesawat", si B tak mau kalah, si C juga tak mau lebih kalah lagi. Semua rebutan bagus-bagusan baju baru lebaran. Masuk thariqah itu untukwushul (sampai) kepada Allah, bukan untuk fadhail. Kalau kita masuk thariqah seperti anak SD, maka thariqah dan dzikir kita hanya menghiasi lisan. Padahal, kalau thariqah sudah menghiasi bathin kita, maka saya menjamin dunia akan damai.
Seminggu sebelum wafat, Sayyidi Syekh Al-Imam Abul Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijani keliling silaturrahim ke Ulama, memohon doa kepada para Ulama agar Husnul Khatimah, padahal sekelas al-Imam Ahmad at Tijani itu wali Quthub, tapi masih mau bersilaturrahim dan memohon doa ke Ulama lain. Itu bentuk betapa tawadhu-’nya al-Imam As-Syaikh Ahmad at-Tijani.
Jangan kita bikin malu Imam Thariqah kita dengan cara kita berakhlak yang baik, maka tawadhu’-lah, cinta Rasulullah dan Ulama. Sehingga kompak, saling tawadhu, dan saling mengangkat. Orang Qadiriy memuji orang Tijani, orang Syathari mengangkat orang Naqsybandiy, dan seterusnya. Jadi sesama ahli thariqah, meskipun berbeda thariqah, tapi saling memuji dan saling mengangkat. Dan inilah wujud min atsaril wudlu (bekas wudlu), dan kemudian diteruskan ke min atsaris sujud (bekas sujud).
Waallahu'allam